RSS

1 Instrumen, 4 Senar, Beragam Nama

08 Oct

18 September 2015

Concert Hall ISI Yogyakarta

akhirnya, setelah kena writer’s block & terakhir nulis (hampir tepat) 2 tahun lalu, kertas maya ini bisa tercorat-coret lagi…

Ukulele? Kencrung? Cak Cuk?

Bukan…ini adalah Cavaquinho (~kava-kinyo)…”simbahnya” kencrung, ukulele dan lain-lain.

Singkat cerita, hari Jumat kemarin ada musisi senior (cavaquista) dari Portugal yang mampir ke Yogyakarta untuk mendokumentasikan kisah perjalanan Cavaquinho, ia adalah Julio Pereira.

(sumber: facebook Julio Pereira)

(sumber: facebook Julio Pereira)

Mbah Julio adalah salah satu orang yang berhasil menghidupkan kembali “instrumen tradisional” Portugis ini. Karena saya datangnya telat, jadi terlewat ketika Julio menjelaskan asal muasalnya. Saya hanya bisa menangkap bahwa Cavaquinho awal mula terdeteksi di Lisbon, Madeira dan Braga (3 kota ini yang disebut berulang-ulang). Secara garis besar ada 2 tipe Cavaquinho, yaitu Minho dan Lisbon. Untuk Minho fretboard hanya sampai padasoundboard (12 fret), sementara Lisbon mencapai soundhole (17 fret). Cavaquinho akhirnya dapat ditemui di berbagai negara tidak terlepas dari bangsa Portugis yang beberapa abad lalu sedang gencar-gencarnya memburu rempah-rempah. Ketika berlayar mereka ingin membawa alat musik yang sederhana, tidak merepotkan (bisa masuk kantong jubah) dan tidak kehilangan esensinya sebagai “instrumen pengiring”. Sebab awal mulanya Cavaquinho merupakan pengiring untuk sing-along dan acara dansa.

Pada masa itu, syarat agar Cavaquinho dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat yang disinggahi “imigran” Portugis cukup mudah, “paksa” saja Raja di daerah itu, maka rakyatnya akan mengikuti semua. Terlepas dari hal ini, Cavaquinho sendiri pada dasarnya langsung mendapat tempat di hati para pemirsa, *eh, rakyat. Sebab cocok dengan iklim, suasana, mudah dibawa, cuma 4 senar serta nadanya selaras dengan vokal manusia. Sehingga cukup membawa “2 instrumen” kalau berpergian, Cavaquinho dan pita suara.

Tidak ada dokumen yang cukup bisa menjelaskan apakah Cavaquinho merupakan modifikasi dari gitar Spanyol atau dari aslinya sudah berbentuk seperti sekarang ini. Dokumentasi yang cukup lengkap hanya diperoleh ketika “terdampar” di Hawaii, yang kemudian menyebutnya Ukulele. Bermula dari sini, antara abad 19 – 20, orang-orang Hawaii membawa Ukulele ke festival musik di San Fransisco. Ini adalah salah satu gerbang Cavaquinho “hidup” kembali di era industri musik modern.

Pada dasarnya, Cavaquinho juga memiliki tuning yang kurang lebih sama dengan gitar. Perbedaannya adalah jika gitar punya “standarisasi” nada (E-B-G-D-A-E; senar 1-6), maka untuk Cavaquinho belum ditemukan asal muasal tuning yang “baku”, karena ketika muncul di Lisbon setelah itu Cavaquinho sempat “hilang”. Ketika “muncul” kembali di Madeira baru diteliti secara akademis, dan karena penelitian ini maka seolah-olah ada standarisasi nada, efek dari pendokumentasian dari permainan-permainan sebelumnya.

Tuning yang umum dipakai adalah D-B-G-D (senar 1-4), namun ada juga yang mengambil tuning senar terbawah dari gitar (hal ini umum saya jumpai di Indonesia). Sementara Julio sendiri konon mempertahankan tuning tradisional E-B-A-D (1-4). Perbedaan tuning dan jumlah senar adalah hasil adaptasi lokal dari masing-masing tempat yang disesuaikan dengan kebutuhan tertentu. Kalau melihat dari permainan yang ditunjukkan Julio, tuning ini membantunya untuk bermain solo. Karena ia salah satu orang yang mengembangkan Cavaquinho agar tidak hanya menjadi instrumen pengiring, namun juga instrumen solo. Dalam beberapa pertunjukannya Julio sering bermain bersama gitar, cello dan Cavaquinho yang berbeda senar / tuning-nya. Namun kemarin Julio hanya bermain bersama Cavaquinho, sepatu boots, telapak tangan dan badannya.

Ia duduk di kursi – memegang Cavaquinho di depan dada – dengan bantuan mic yang “ditodong” ke arah Cavaquinho namun sedikit mengarah ke bawah – membuat efek perkusi yang dihasilkan dari hentakan kaki dan telapak tangan kanan yang sesekali menepuk soundboard menjadikan seimbangvolume-nya sebagai rhythm. Julio memakai teknik Rasgado dalam “nggenjreng”, yaitu memetik gitar dengan 4 jari sekaligus untuk rhythm (minus jempol, hampir seperti teknik gitar klasik spanyol) atau perpaduan jempol dan telunjuk untuk bermain harmoni (bisa juga kedua cara ini digunakan sekaligus). Teknik ini dilakukan dengan gerakan up-down atau down-up yang konsisten. Maka dari itu, semakin sedikit senar maka akan semakin baik (konon salah satu alasan kenapa Cavaquinho senarnya hanya sedikit). Letak fretboard dan soundboard yang sejajar membuat rhythm, harmoni dan melodi dapat “berbunyi secara bersamaan”.

Saya lebih suka mendengar dan melihat penampilan solo Julio yang seperti ini, jika dibandingkan dengan apa yang ia upload di youtube. Minimalis tapi terasa hidup dan “penuh”, meski tidak ada vokal namun gerakan tubuh Julio dan hentakan kakinya seperti sedang menggambarkan jenis lagu yang ia mainkan, lagu gembira – riang – sedih bisa dibawakan hanya dengan 4 senar dan tubuh. Sekilas permainan Julio seperti musisi Delta Blues dengan slide guitar dan foot tapping.

Setelah selesai bermain solo dan jamming dengan mahasiswa dan dosen ISI, Julio berpesan agar kita membuka situs http://www.cavaquinhos.pt ; Indonesia, Brazil dan Hawaii di situ disebut sebagai negara yang melestarikan dan mengembangkan Cavaquinho. Kunjungan Julio ini merupakan upaya untuk mendokumentasikan perjalanan Cavaquinho yang bisa terdeteksi di beberapa negara, yang kemudian akan dijadikan film.

(lagu ini dimainkan Julio secara solo waktu di ISI)

(Cavaquinho goes blues ~ [I Can’t Get No] Satisfaction)

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2015 in music, review

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: