RSS

Ode To Pappilon and The Serendipity

10 Oct

tulisan ini dulu rencananya akan saya sertakan dalam kumpulan kesan-kesan untuk (alm) Pappilon H.M. yang diprakarsai Pak Siyamta (5 tahun lalu) kalau tidak salah…tapi akhirnya tidak jadi, dan baru sekarang saya upload karena teringat setelah nonton Skid Row tanggal 8 Oktober kemarin. Isi tulisan beberapa bagian pernah diposting di ->sini dan ->sini

awal kisah…

4 tahun sudah saya kuliah di FISIP UAJY, dan hampir 4 tahun pula mengenal Pak Yohanes Pappilon H. Manurung. Pertama melihat, saya kira mahasiswa (dari style’nya) dan (sorry ya Pak :p) gendut gede tinggi gitu, tapi kalo diajak ngobrol…wuiihhh, ternyata pengetahuannya juga segede dan setinggi badannya…hehehe.

Tapi saya baru akrab dengan beliau -yang jika dilihat-lihat potongannya seperti Bruce Dickinson- pas AJR (Atma Jaya Radio) pindah ke Babarsari dan saya masih jadi asisten Lab AVI, karena kebetulan juga beliau adalah Kepala Lab AVI. Kami sering ngobrol dan ada hal menarik dari bapak 2 anak ini, yaitu tiap kali masuk ke Lab -dan beliau sudah ada di ruangannya- pasti akan terdengar lagu dari Iron Maiden, Helloween, Van Halen, Whitesnake, bahkan Earth Wind & Fire (dan masih banyak lainnya)…sangaaar!

Tidak disangka akhirnya saya “menemukan” orang yang “sealiran” di kampus. Walaupun sedikit berbeda, selera saya adalah glam rock, AOR (Album-Oriented Rock) dan sedikit metal; nah beliau ini kalau yang cadas, ya cadas sekalian; kalau mellow ya mellow sekalian, tapi meskipun begitu “jalan tengah” pun masih dikompromikan jika memang menyukainya (bahkan band funk jazz seperti Tower of Power dan Earth Wind & Fire). Seperti kesehariannya yang selalu menghadapi masalah dengan tanpa harus diambil pusing dan ditangani dengan santai dan seyuman. Tanpa basa-basi langsung saya ajak ngobrol, dengan ”memancing” pengetahuannya tentang Iron Maiden. Karena lagu yang diputar adalah lagu-lagu lama (The Trooper, Run To The Hills, dll) langsung aja saya tanya:

+“dah denger album baru’nya IrMa (Iron Maiden) belum Pak?”,

-“wah belom tuh, ada yg baru to? mbok aku minta sini!”.

Akhirnya saya kasih album dari A Matter of Life and Death, yang single’nya For The Greater Good Of God. e..e..e, lha kok habis itu beliau “ketagihan”, setiap lihat saya di AJR pasti nanya:

“ada lagu baru apa ni? mbok aku minta!”.

kata-kata inilah yang kemudian selalu beliau tanyakan kepada saya setiap bertemu), atau dengan variasi : ”piye dab / piye bos…ada lagu baru apa?”, dengan senyum khasnya dan gestur kepala yang maju-maju (seperti Nagabonar ketika berkata ”apa kubilang, a…a…a…”).

Setiap bertanya begitu pasti beliau -yang penggemar klub Arsenal ini- sudah masuk ke callbox AJR sambil mengacungkan flashdisk yang disiapkannya. Terakhir saya ngasih single terbaru Van Halen “It’s About Time”.

Setelah tidak menjadi asisten dan masa keaktifan di AJR juga sudah habis, saya jarang bertemu dengan beliau, hanya sesekali saja. 9 hari sebelum beliau meninggal kami ada rencana untuk menonton konser Skid Row di Semarang, saya berinisiatif mengajak beliau, namun karena jauh dan Sebastian Bach sudah tidak menjadi vokalis lagi, maka beliau mengurungkan niatnya. Terakhir beliau minta dicarikan CD band SAGA yang sudah susah dicari, setelah ketemu ternyata beliau baru tidak punya uang. Lalu akhirnya, ketika diberi kabar teman di Jakarta bahwa Whitesnake bakal rilis album tgl 22 April dan bisa pre-order dulu, saya langsung kepikiran buat nawarin Pak Pappi, sekalian ngasih bocoran lagu yang sudah ada. Namun setelah ujian mid selesai, ketika saya cari nggak pernah ketemu di kampus.

Kemudian pagi hari (20 Maret 2008) pukul 09.00 WIB, ada sms  kalau Pak Pappilon meninggal dunia. Karena belum tidur & setengah sadar, saya nggak percaya. Langsung teringat sebelumnya, malam minggu (15 Maret) saya, Seto ‘ndut dan Tembel ngobrol tentang Pak Pappi. Kami membicarakan mengenai bagaimana kisah-kisah & kesan-kesan kami terhadap beliau, mulai dari kami mengenalnya hingga saat ini (itu). Bahkan ketika di RS Bethesda kami bertiga juga mengucapkan kalimat yang sama, “lha padahal wingi sebtu bar diomongke lho” (padahal kemarin Sabtu baru dibicarakan).

Perasaan menyesal muncul ketika tidak bisa bertemu waktu itu, hanya untuk memberitahu bahwa Whitesnake mengeluarkan album baru dan apakah beliau mau pre-order dulu. Selain itu juga mau pamer kaos Helloween dari merchandise konser Februari lalu dan ->cerita konser Skid Row. Padahal saya juga masih membawa bukunya yaitu, Popular Music & Communication (yang akhirnya sudah saya kembalikan). Malam sebelum berangkat ke Cepu untuk pemakaman saya menyempatkan diri untuk menulis di blog mengenai Pak Pappi. Disitu saya mempersembahkan lagu baru Whitesnake yang berjudul ‘Summer Rain’.

Perjalanan 6 jam menggunakan bus yang disediakan kampus disambut oleh cuaca yang sangat panas di Cepu. Ternyata pemakaman beliau dipercepat karena darah yang keluar terus menerus. Namun muncul hal yang sedikit tidak diduga, cuaca yang sangat panas tiba-tiba berubah menjadi hujan ketika jenazah diberangkatkan ke pemakaman. Setibanya di sana, hujan justru semakin deras yang ditambah dengan angin yang kencang. Tanah di Cepu yang labil dan liat membuat prosesi penguburan menjadi tambah sulit. Kemudian teringat malamnya saya menulis tentang lagu ‘Summer Rain’ untuk beliau, aneh ya, mungkin rasa penasaran akan lagu itu ketika pertama kali mendengarkannya terjawab disini. Seketika setelah prosesi selesai, tiba-tiba hujan dan angin yang (tadi) begitu kencangnya hanya meninggalkan tanah yang basah dan kubangan air. Entah kemana perginya hujan dan angin tersebut, apakah memang “mereka” sengaja datang untuk mengantar kepergian Pak Pappi?

Pertama kali mendengarkan lagu Summer Rain ini saya langsung suka, selain karena lagunya memang indah dan mellow, liriknya cukup menyentuh (namun belum mengetahui artinya saat itu). Jika dilihat dari judulnya saja sudah aneh, musim panas namun hujan? Hal yang mengejutkan, walaupun entah apakah ini berhubungan dengan isu global warming atau tidak. Setelah mengalami hujan di pemakaman, rasa penasaran itu terjawab (atau terealisasi karena dipersembahkan untuk itu?), namun tetap belum melihat liriknya lebih mendalam.

Sepulang dari Cepu, kami (Tembel, Ricky, Tumbur, Dany) nonton film Passion of the Christ di televisi (karena itu masa Paskah). Kami langsung teringat cerita Pak Pappi yang sudah dalam kondisi sakit namun masih bisa berjalan sendiri ke rumah sakit, hingga akhirnya divonis dokter bahwa pembuluh darah di kepalanya pecah, beliau masih sadar. Lalu saya juga teringat lagu baru Def Leppard – Only The Good Die Young (yang juga ditujukan untuk gitaris mereka -Steve Clark- yang meninggal dalam usia muda). Tersirat dalam lirik:

“As soon you start cross the sky, you kiss the earth and say goodbye / Only the good die young, you crush into the sun, but they always be here.”

Setelah beliau pergi, saya sering mendapatkan lagu-lagu baru yang juga kesukaan Pak Pappi seperti Tower of Power, piano cover Iron Maiden, Journey, atau Revolution Renaissance band baru bentukan Timo Tolkki (Stratovarius) dan Michael Kiske (Helloween). Namun sayang kami tidak bisa saling berbagi lagi (setidaknya di dunia ini). Atau bisa juga malah beliau yang “mengirimkan” lagu-lagu itu? Bisa saja, sebab apa sih yang tidak ada di surga sana?

Ternyata dari tulisan di blog muncul efek domino, beberapa minggu kemudian saya dapat sms dari teman di Semarang, yaitu mas Denny (ia ternyata membaca tulisan di blog). Kami dikenalkan oleh mas Hendro (mereka kuliah di UNDIP) ketika sama-sama menonton Skid Row di Semarang. Isi  sms tersebut :

“…kowe ki ternyata murid’e Pappilon to? dia tu dulu sahabat dan teman seangkatan aku dan istriku pas di UNDIP, meninggal karena stroke ya? tragis…”

Jadi, mas Denny ini adalah sahabat seangkatan Pak Pappilon ketika kuliah di UNDIP, namun mas Denny fakultas hukum dan Pak Pappi komunikasi. Mereka kenal gara-gara mas Denny sering ngapel mantan pacarnya di pers mahasiswa yang kemudian jadi istrinya, nah istrinya mas Denny ini juga sahabat Pak Pappilon yang sama-sama di komunikasi dan pers mahasiswa. Peribahasa dunia ini tidak selebar daun kelor memang tidak pernah tidak terpakai. Coba kalau dulu Pak Pappi jadi nonton Skid Row, pasti malah jadi ajang reuni UNDIP, karena beberapa teman yang bertemu disana kebanyakan lulusan UNDIP, dan kelihatannya UNDIP menghasilkan “produk” yang menyukai musik rock atau metal.

Orang lain yang memberi komen adalah Om Gatot Widayanto, MC dari konser Helloween dan Dragonforce (band kesukaan Pak Pappi yang lain) di Jakarta pada Februari 2008 lalu. Om Gatot (Om G) memberi wejangan bahwa kita janganlah takut akan kematian, karena segala sesuatu yang kita jalani adalah agar siap menghadapi kematian, sebab kematian hanyalah awal dari kehidupan yang kekal. Mungkin karena itu juga kebanyakan band metal, progressive rock maupun rock sering mengusung tema kematian.

Konser Helloween ini juga sempat kami bicarakan selain konser Megadeth sebelumnya, namun karena jauh dan mahal maka tidak jadi berangkat. Beberapa minggu kemudian saya juga mendapatkan DVD Iron Maiden yang judulnya bikin merinding juga, yaitu Live After Death. Sebenarnya maksudnya adalah itu kumpulan konser live mereka, namun menjadi ambigu menjadi kehidupan setelah kematian. Pikiranku langsung terbayang jika Pak Pappi masih ada, beliau pasti senang jika diberi tahu. Namun kembali teringat pesan Om G yaitu Pak Pappi pasti dapat mendengarkan lagu-lagu kesukaannya di “atas” sana, bahkan lagu-lagu yang mungkin di dunia ini belum rilis atau mungkin belum ada.

Semasa kuliah, hanya sempat satu kali diajar beliau ketika MPK II. Selebihnya kami justru hampir tidak pernah membicarakan masalah akademis, hanya yang berhubungan dengan musik, atau tentang Lab. Bahkan pernah, ketika saya sedang mengantri KRS Bu Anita, Pak Pappi sudah selesai bimbingannya lalu tiba-tiba beliau menghampiri dan ngajak ngobrol ngalor-ngidul sampai-sampai Bu Anita sudah selesai dan kembali ke ruangannya, jadi terpaksa saya nyusul dan “kena marah”. Atau ketika meminta koreksi nilai akhir MPK, saya harus meminta surat keterangan dari Pak Pappi, ketika beliau sedang mengetik surat tersebut kami malah saling “meracuni” (istilah untuk membagi lagu baru yang orang lain belum memiliki, dan agar orang itu menjadi suka terhadap lagu yang kita juga sukai). Hal ini dikarenakan beliau ternyata baru saja dapat mp3 yang isinya Whitesnake, Helloween, Red Hot Chili Peppers, Grandfunk Railroad, The Rolling Stones dll, beliau malah memutarkannya dan ngajak ngobrol. Karena terpancing, saya juga ngasih lagu baru dari band-band glam rock yang tidak begitu terkenal, yang langsung dikopi oleh beliau. Gara-gara saling “meracuni” ini beliau malah jadi lupa untuk mengetik surat tadi, padahal Mas Joko (TU) sudah menunggu di bawah sampai bilang “kok suwi?” (kok lama?).

Ada satu hal lagi yang sering kami bicarakan, yaitu mengenai rencana untuk membuat stasiun Radio Rock. Pasti kami selalu membicarakan hal ini jika bertemu, beliau seolah-olah sudah mempunyai gambaran akan seperti apa radio itu nanti. Bahkan rencana untuk memakai channel AM stereo sudah terpikirkan. Kemudian bahkan sampai merangkul komunitas rock yang ada di Jogja yang kurang tersentuh. Beliau bahkan menyuruhku untuk mencari informasi tentang bagaimana prosedurnya untuk itu.

Namun seringnya beliau cuma berwacana saja, hehehe, ketika diajak serius malah cengar-cengir. Bahkan beliau juga mengajak Seto ‘ndut dan Tembel. Masih teringat ketika kami berempat ngobrol di Lab Avi, di depan ruangan beliau, Pak Pappi duduk di sofa sambil merokok, dan kami bertiga duduk lesehan di lantai, pembicaraan ngalor-ngidul tidak jelas namun berisi.

Wacana tentang radio ini bisa jadi terealisasi karena Om Gatot di Jakarta sempat melontarkan wacana serupa yaitu membuat radio untuk musik progressive rock atau bahkan rock secara umum. Bisa klop kalau semisal Pak Pappi dan Om G ini bertemu. Namun semua wacana radio ini sekarang (mungkin) sulit terealisasi karena beliau telah tiada.

Kepergian Pak Pappi juga menjadi Summer Rain dalam arti lain. Di bulan (Maret) dimana sebenarnya penuh kebahagiaan, karena umur saya tepat bertambah satu tahun pada tanggal 13, kemudian band favorit sejak SMP (Skid Row) bisa konser di Indonesia pada tanggal 11, serta ditambah bulan itu merupakan masa Paskah. Namun semua kebahagiaan itu harus dibayar mahal dengan kehilangan seorang sahabat. Meskipun jelas tetap tidak dapat menyamai perasaan kehilangan yang dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan seperti memperoleh kesejukan karena mendapat hujan di panasnya musim kemarau.

Entah berhubungan atau tidak, kepergiannya jadi inspirasi untuk saya menganalisis cover album Pink Floyd – The Dark Side of The Moon (ceritanya bisa dibaca di ->sini). Sebenarnya ini juga untuk tugas Komunikasi Visual (KomVis), namun ternyata hasil analisis menunjukkan bahwa cover album dan konsep album (lirik) merepresentasikan proses kehidupan. The Dark Side of The Moon sendiri berarti sebuah “kematian”, yang sebenarnya awal menuju kehidupan baru. Karena analisis ini saya tidak perlu mengikuti ujian akhir KomVis.

Hari-hari menjelang kepergian beliau, banyak cerita dari orang-orang bahwa mereka seperti “dipamiti” oleh Pak Pappi. Seperti cerita tentang beliau yang akan memberi kuliah, ketika masuk ke ruang 4306 tiba-tiba lantai ruangan tersebut retak seperti kena gempa. Kemudian Pak Danarka yang bercerita bahwa pernah suatu saat ketika Pak Pappi membantu beliau di ruang dosen, waktu itu Pak Pappi yang perokok berat bisa menahan untuk tidak merokok dalam waktu lama, hal yang jarang dilakukan oleh beliau. Atau cerita dari istrinya, ketika Pak Pappi meminta untuk dipotong rambutnya (saya lupa apakah ini mimpi istrinya atau memang beliau meminta betulan).

Benar atau tidak, namun saya meyakini bahwa Pak Pappi “pamit” kepada orang-orang di sekitarnya dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin juga karena kami memiliki kesamaan minat pada musik rock maka beliau “pamit” kepada saya lewat sebuah lagu, sebuah lagu yang baru saja dirilis (Summer Rain) dan belum beredar itulah beliau menitipkan pesan. Hal yang baru saya sadari setelah beberapa minggu kemudian.

Kira-kira lirik ‘Summer Rain’ saya artikan seperti ini :

Lately I’ve been thinkin

Even thou’ I’m miles away

-baru tersadar akan sebuah jarak yang terbuat karena kuasa Tuhan (kepergian)…

I can feel your love around me

-meskipun jarak memisahkan, namun cintanya tetap ada…

You’re with me everyday

-dan akan selalu ada setiap hari…

And of all the roads i’ve traveled

-segala hal yang telah dilalui dan dilakukan…

And all that I’ve been through

-dan semua yang telah dilaksanakan dan terselesaikan…

No matter where life takes me

-kemanapun hidup ini akan membawaku (menggambarkan kematian / kehidupan yang baru)…

Never far from you

-tidak akan pernah jauh dari orang-orang terdekat…

You warm me like a morning sun

With you my life is just begun

Love comes over me, falling like summer rain

like summer rain

Pour your love on me, feeling like summer rain

like summer rain

I traveled each and every highway

With you in my heart

And all the gold and silver

Can’t keep us apart

 
1 Comment

Posted by on October 10, 2013 in memory, music

 

Tags: , , , , , , , , ,

One response to “Ode To Pappilon and The Serendipity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: