RSS

Skid Row Tanpa Baz, Masih Nikmat Ditonton?

02 Oct

Ini hanya sekedar kiat-kiat versi saya ketika dilema untuk menonton konser (dalam hal ini Skid Row). Seharusnya tulisan ini dibuat 5 tahun lalu, ketika mereka untuk pertama kalinya ke Indonesia…tapi sesuai kata pepatah: lebih baik terlambat daripada terlambat banget…

Tiket Skid Row, Semarang 2008

Tiket Skid Row, Semarang 2008

Ada orang yang berhenti membeli -bahkan berhenti mendengarkan- album band favoritnya ketika ada salah satu personil yang keluar/diganti. Tidak tergantikan dan “ahli waris” yang tidak bisa melebihi -atau bahkan setidaknya menyamai- pendahulunya adalah alasan yang lumrah ditemui. Vince Neil – John Corabi, Lee Roth/Hagar – Cherone, Joe Perry – Jimmy Crespo, dan lain sebagainya  adalah pergantian pemain yang dirasa tidak membuat perubahan positif baik secara komersial maupun kepuasan batin penggemar.

Rata-rata band yang “menurun” ini karena vokalisnya yang keluar/dipecat/meninggal. Sepertinya (untuk kebanyakan) telinga dan rasa manusia lebih mudah menerima perubahan instrumentalis, daripada pita suara (dan kadang juga attitude-nya). “Males ah udah bukan A yang nyanyi/main instrumennya” adalah kalimat mainstream yang selalu muncul (termasuk dari saya) ketika sebuah band datang untuk konser dan bukan original/the best line-up-nya.

Jika kalimat tersebut muncul namun ternyata akhirnya konser sangat sukses dan memuaskan maka kecewa adalah hal yang saya takutkan. Maka akhirnya muncul pertimbangan-pertimbangan lain jika saya akan menonton konser. Tebal dompet, lokasi konser, harga tiket dan kualitas ketika band tersebut live saat ini hanya beberapa contohnya. Tentu saja ini diluar masalah luangnya waktu yang sering tidak bisa dikompromikan.

(Sebelum semua pertimbangan itu, satu hal yang sebaiknya dilakukan adalah membuat semacam daftar band yang paling ingin anda tonton dan dibuat semacam peringkat. Karena tidak mungkin semua konser bisa anda datangi, kecuali anda pengangguran tapi bapak sampeyan adalah pemilik saham mayoritasnya Freeport.)

Tapi karena ini juga menyangkut rasa, maka faktor tersebut juga sulit untuk diterapkan pada semua kondisi/band. Jadi kali ini hanya untuk kasus Skid Row saja:

Personil: Skid Row itu adalah Bolan-Snake-Scotti!

Boleh saja ada yang bilang tanpa Baz (Sebastian Bach) Skid Row sudah tidak seperti dulu lagi, tetapi jika dibilang Skid Row = Baz menurut saya tidak tepat. Hampir sebagian besar musik dan lirik dari lagu-lagu Skid Row itu dibuat oleh Bolan & Snake. Baz memang mampu membawakan & menghayatinya dengan sangat baik, makanya ia seolah-olah jadi satu-satunya ikon Skid Row. Jika dilihat lagi Baz bahkan belum Pe-De untuk membuat sendiri semua lagu-lagu dalam album solo-nya, ia masih “membutuhkan” bantuan orang lain.

Snake & Scotti layaknya kue dan topping-nya, Snake dengan rhythm sebagai pondasinya dibubuhi lead Scotti yang liar. Tapi jangan lupa Snake juga sadis kalau nge-lead, cek saja ‘Monkey Business’. Selepas Baz cabut, trio ini masih mampu membuat musik yang catchy dan tidak jauh dari ciri khas mereka sebelumnya. Cek saja lagu ini:

Permasalahan disini adalah Baz – Johnny (Solinger). Karakternya jelas berbeda; Baz melengking dengan vibra-nya yang sangat khas terutama ketika membawakan lagu ballad, sementara Johnny suaranya lebih berat dan mirip Scott Stapp (padahal Scott mirip Eddie Vedder).

Dompet: suka musik? tidak keberatan untuk nonton live konsernya? maka haram hukumnya ketika dompet sedang berisi tapi tidak datang ke konser band yang anda suka. Isi dompet tidak cukup? Nabung! Ngutang! Apapun yang penting nggak ngerugiin orang lain.

Tetap tidak berminat? Ya sudah tidak ada yang memaksa, dan relakan saja anda cuma mendengar ceritanya.

Lokasi: seberapa besar pengorbanan untuk sampai ke lokasi konser? jauh? sangat jauh? maka pertimbangkan dompet anda untuk over budget (belum lagi jika anda termasuk kolektor merchandise)

dekat? sangat dekat? di kota anda sendiri? Nah kalau seperti ini buat apa berpikir dua kali…

Harga tiket: untuk Jakarta dibawah 1 juta sepertinya masih wajar, untuk luar Jakarta bisa 25% bahkan sampai 50% lebih murah malahan sepertinya. Tergantung bandnya juga apakah masih dalam performa dan masa terbaiknya.

Untuk Skid Row paling murah 40 ribu dan paling mahal 150 ribu untuk kota yang berbeda, sangat wajar kalau buat saya ini mah. Meski saya hanya tahu lagu ‘I Remember You’ bakal tetap nonton deh.

Suka Skid Row atau setidaknya pernah suka? Menurut saya harga segitu masih terjangkau. Nggak ada salahnya kan nonton band yang anda (pernah) suka meski sudah tidak utuh lagi, toh harga tiketnya murah.

Kualitas Live: Johnny memang tidak seperti Baz, bahkan saya masih memilih Baz sebenarnya. Tetapi tunggu dulu, Johnny mungkin tidak semelengking Baz, tetapi ia masih bisa mencapai nada tinggi lagu-lagu Skid Row. Johnny juga tampak lebih cocok membawakan lagu-lagu kerasnya Skid Row. Hal yang paling penting adalah Johnny tidak FALS kalau live, sementara Baz sering sekali meleset nadanya, bahkan dari waktu ke waktu semakin memaksakan diri jika ingin mencapai nada tinggi. Bisa dibilang Johnny “menang” stamina & kualitas nada, sementara Baz “menang” karakter.

Lalu bagaimana dengan Bolan-Snake-Scotti? Untuk Snake karena 5 tahun lalu ia dicekal tidak boleh ke luar negeri, maka saya nggak tahu gimana performanya sekarang. Tapi Bolan & Scotti masih sama seperti saat mereka konser di Kawasaki, Jepang tahun 1989. Scotti bahkan masih mengisi solo gitar ‘I Remember You’ persis seperti di video klip.

Silahkan lihat ->disini<- tentang bagaimana konser Skid Row di Semarang 5 tahun lalu.

Nah, sudah mempertimbangkan setiap faktor tersebut? Tidak semua harus terpenuhi, karena setiap faktor saling bersinergi. Yang jelas sebagai fans kita harus menerima apa yang ada sekarang dan akan lebih baik jika mau berkompromi, menikmati yang ada. ‘Toh kita juga nggak bisa maksa Baz balik lagi ke Skid Row meski pernah ada isu mereka mau reuni tapi dibantah oleh Skid Row sendiri.

Untuk sekarang mari kita biarkan Baz sibuk dengan solo karirnya, serta adu mulutnya dengan Nikki Sixx perihal kejadian yang hampir 20 tahun lalu -dan sebenarnya nggak ada efeknya sama sekali untuk keberlangsungan hidup mereka saat ini-, yaitu saat Baz (setidaknya menurutnya) diminta untuk menggantikan Vince Neil. Mungkin Baz lebih baik menggunakan keahlian sarkastik dan berkomentar di media untuk membuat lebih banyak lagu saja :p

nb: saya adalah salah satu fanboy-nya Baz, jadi harap berpikir dua kali jika ingin mengomentari/mengkritik seolah-olah saya nggak suka sama Baz.

 
Leave a comment

Posted by on October 2, 2013 in konser, music

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: