RSS

A Journey of Rock Harmony: Menjual Romantisme Masa Lalu

05 Jul
29 Juni 2013, Lapangan Motocross Maguwoharjo, Jogja

Siapa bilang masa lalu jangan ditengok? Nyatanya justru laris manis jika bisa dijajakan dengan kemasan yang menarik. Tampaknya ini adalah bisnis yang menjanjikan dari waktu ke waktu…di industri musik. (Sasarannya?) Tentu konsumennya adalah fans lawas yang ingin melihat formasi awal/emas suatu band ketika mereka masih muda, atau fans baru yang mungkin belum “lahir” ketika musisi/band tersebut mencapai kejayaannya. Bulan Juni 2013 setidaknya ada 3 hajatan yang memanjakan #Generasi90an, mungkin yang menyelenggarakan sedang kangen dengan masa lalu kali ya. (1) Java Rockin’ Land; ada Collective Soul, Sugar Ray (dan lain-lain) yang membuat nuansa 90an terasa mencolok. (2) Mesin Waktu Generasi 90an; hajatannya anak-anak hestek #Generasi90an yang menyajikan benda-benda dan memori 90an, plus kehadiran P-Project yang reuni untuk memarodikan lagu-lagu hits musisi lain. (3) Soundrenaline, yang mana saya hadiri…

Sayangnya, bahkan ketika sudah sampai di parkiran venue, saya masih membawa harapan yang tidak terlalu besar, bisa dibilang suudzon malahan. Kacau balaunya Soundrenaline 2008 (bisa dibaca ->disini<- ) adalah penyebab utamanya. Kemudian promo yang saya temui hanya lewat usaha para musisinya. Tidak ada situs khusus, yang ada hanya situs A-Mild dimana untuk masuk saja prosedurnya ngalah-ngalahin pendaftaran Pemilu. Rundown juga baru bersliweran di Twitter kira-kira H-3.

Sepertinya para panitia membaca pikiran saya, saya tersenyum (impresi awal yang tidak saya berikan pada Soundrenaline 2008) ketika melihat adanya Ring 3 sebelum tiket boks. Segala alat untuk mendirikan bendera (tongkat, bambu, dll) disita di sini. Pintu masuk dibagi 2; satu untuk pembeli tiket presale, invitation dan lain-lain; dan satu lagi untuk pembeli on the spot, yang sayangnya jalur pembelian ke tiket boks dan pintu masuknya dijadikan satu sehingga membuat antrian menjadi panjang. Ring 2 pemeriksaan tiket, tas dan badan (jaket harus dilepas). Beberapa promotor mungkin perlu memperhatikan bahwa ada segelintir orang yang mengoleksi tiket konser. Adalah aneh ketika sobekan tiket tidak boleh diminta kembali, alasannya karena akan diberi gelang khusus. Yang mengecewakan lagi, gelangnya polos, tidak ada penanda bahwa itu petanda Soundrenaline. Yang ada hanya angka 13156, sepertinya jumlah penonton ketika saya masuk pukul 19.45. Ring 1 adalah pemasangan gelang dan tempat penitipan gesper yang membahayakan. Yang mengejutkan adalah panitia juga menyediakan layanan memindahkan isi botol minuman ke dalam plastik, plus diberi sedotan pula.

Kaki langsung mengarah menuju Community Stage, dimana Netral sedang tampil membawakan ‘Sorry’. Sayang soundnya kurang oke; suara drumnya pecah dan sound buang gitarnya Choky terlalu noisy. Selepas ‘Cahaya Bulan’ dan covering ‘Bakumba Kumba Keo’, kami (berenam) salah satu rombongan #Generasi90an menyeberang ke Utara menuju Go Ahead Stage. 4 tahun lalu sering sekali bertatap muka dengan Kotak, baru sekarang melihat live-nya lagi. Tantri agak kurusan, Cella tetap bermain dengan lick-lick colongannya dari beberapa gitaris terkenal, lalu Chua…tetap jadi idola remaja…dan yang sedikit berumur. Sound di stage ini lebih nyaman di kuping, gahar namun tetap balance. Saat menyanyikan ‘Terbang’ tiba-tiba Achmad Albar keluar dari samping panggung, ah tapi sayang kondisinya tidak prima, suaranya semakin dimakan umur. ‘Bis Kota’ (lagu Achmad Albar) melanjutkan kolaborasi mereka, dengan mic om Kribo yang tiba-tiba tidak bunyi di awal lagu. Pada encore “Beraksi” Kotak meng-PHP-kan kami dengan hanya menyisipkan secuil “Enter Sandman” yang bakalan-mau-akan-segera ke Jakarta Agustus nanti.

Selanjutnya kami hanya tinggal menoleh ke kiri pada A Stage untuk melihat Gigi yang tampil dengan semua personil yang pernah bergabung. Sayangnya, untuk mereka yang pernah datang ke konser reuni Gigi tahun lalu (yang tampaknya lupa saya tulis reviewnya), konser di Soundrenaline kali ini bukanlah sebuah kejutan. Konsep dan gimmick yang ditampilkan hampir mirip, hanya durasi saja yang lebih singkat. Formasi saat ini (Armand, Budjana, Thomas, Gusti) membuka konser. Lalu Baron, Ronald, Budhy dan Opet satu per satu ikut bergabung di atas panggung. Jika pada konser reuni sebelumnya setiap personil muncul satu per satu pada lagu yang dirilis dengan formasi tersebut (contoh: Opet hanya bermain pada lagu dimana dia ikut rekaman), maka kemarin hampir pada setiap lagu mereka bermain bersama, soal durasi sepertinya.

Gigi Reunion. (foto: twitter @AdibHidayat)

Gigi Reunion.
(foto: twitter @AdibHidayat)

Ketiga drummer melakukan atraksi dengan bermain solo drum bersamaan sambil diiringi spinning fireworks di belakangnya, yang kemudian ditutup dengan mereka “memperkosa” satu drum secara bersama-sama. Menarik, tetapi saya lebih terkesan dengan “perkosaan” yang dilakukan semua personil Franz Ferdinand terhadap drumnya 4 tahun lalu di Ancol. Konser diakhiri dengan medley ‘Angan’ – ‘Janji’ – ‘Nirwana’ (CMIIW, agak lupa, gak begitu memperhatikan), yang mana medley ini juga dilakukan pada konser reuni sebelumnya. Semua hampir mirip, bahkan ledekan Armand dkk pada Baron yang bilang “Baron manuk’e mendelep” (Baron burungnya mengkerut) serta pengenalan Ronald oleh Armand dengan sebutan “penakluk wanita” dulu juga dilakukan.

Kami kembali mengarahkan pandangan ke Utara, menyaksikan Ari Lasso berkaraoke lagu ‘Yogyakarta’ bersama penonton. Dewa (19) membuka konser dengan ‘Pangeran Cinta’, entah kenapa Ari Lasso langsung ikut bernyanyi. Terlalu cepat menurut saya, menghilangkan unsur kejut yang sebelumnya saya harapkan, plus lagunya nggak cocok blas sama karakter vokal Ari. Dewa 19 yang sebenarnya baru muncul pada lagu kedua ‘Restoe Boemi’, dan seperti sudah saya duga sebelumnya lagu-lagu lawasnya akan “dirusak” Dhani dengan sequencer-nya. (Sequencer: alat/software yang mampu merekam, mengedit dan membuat jenis suara tertentu, lalu tinggal pencet dan jadilah satu rhythm.)

*Jancuk! (baca ini setiap saya mulai menyebut lagu lawasnya Dewa 19, yang mana “dirusak” Dhani)*

‘Cukup Siti Nurbaya’ membuktikan vokal Ari Lasso masih sangat prima untuk membawakan lagu dengan nada tinggi, bukan (beg)itu mama? Bukan (beg)itu papa? Selanjutnya mereka cooling down sembari membuat saya nggeblak mbrebes mili dengan ‘Satu Hati (Kita Semestinya)’…semestinya sih, nek gak mesti ya dua hati juga boleh. Mas Tyo Nugros yang ganteng kemudian bergabung membawakan ‘Elang’, lagu ini dulu menjadi perpisahan untuk Ari. Coba dulu mas Tyo gak cedera kaki, mungkin sekarang masih pacaran sama Audy (pacaran terus tapi gak kawin-kawin) dan masih di Dewa (19).

Lighting Dewa 19

Lighting Dewa 19

Ari Lasso & Andra Junaidi. (foto: twitter @AdibHidayat)

Ari Lasso & Andra Junaidi.
(foto: twitter @AdibHidayat)

Ari juga membawakan ‘Roman Picisan’, ‘Arjuna’ dan ‘Separuh Nafas’ yang notabene saat itu ia sudah keluar. Setahu saya ‘Roman Picisan’ konon sebenarnya ditulis untuk Ari (entah dengan dua lagu lainnya), tapi ia keburu keluar. Dari sini saya melihat bahwa Ari tidak tergantikan untuk membawakan lagu lawas Dewa 19. Nah, Once adalah vokalis yang berkarakter, namun ketika membawakan lagu lawas Dewa 19 ia tidak bisa “senikmat” ketika Ari menyanyikan lagu Dewa era Once. Pada 3 lagu ini kami malah serasa sedang menikmati pertunjukan organ tunggalnya Ahmad Dhani. Perasaan saya beli tiket untuk nonton konser rock, tapi kok serasa sedang di dalam diskotik. Yah, itulah resiko sequencer yang suaranya sangat digital.

♫ tiba saat mengerti, jerit suara hati, letih meski mencoba… ♫

Sontak kami kembali ke masa lalu seraya membentuk paduan suara massal.

*Ya kalau cinta gak bisa membawamu kembali, coba naik bis, siapa tau bisa kembali ke tempat semula.*

Sayang lagu ini harus di-medley dengan ‘Pupus’ yang dinyanyikan Dhani hanya diiringi dengan keyboard, untungnya sisa lagu ini ia serahkan kepada penonton untuk bernyanyi. Lagu keramat ‘Kangen’-pun tak luput dari sequencer, sebenarnya tidak semua lagu lawas jadi buruk, masih ada yang –yah not bad lah. Ketika intro ‘Kamulah Satu-Satunya’ dimainkan, saya kecewa, rasanya sebentar sekali konser ini. Tapi “hulalala, hulala” kami menutup penampilan Dewa 19 dengan loncat-loncat kegirangan sembari bernyanyi seperti anak SD mendapatkan permen lolipop.

♫ aku ingin damai, aku ingin tenang… ♫

Intro ini membuat serasa kembali ke tahun 1998 saat konser Piss 30 kota, yang saat itu saya tidak sempat datang di Kridosono. Lagu ‘…’ ini dulu sempat menjadi pembuka untuk beberapa konser Slank.

  1. Kilav
  2. Tonk Kosong
  3. Gara-Gara Kamu
  4. Seperti Para Koruptor
  5. Punya Cinta
  6. Gak Welcome (jarang banget lagu ini dibawain)
  7. Orkes Sakit Hati (Kaka ngajak penonton cewek naik ke panggung)
  8. S.B.Y
  9. Virus
  10. Ku Tak Bisa

Itulah setlist sebelum featuring Pay & Indra. Saat Ridho mengambil gitar dan mulai memainkan lagu lama yang biasa mereka mainkan, Indra Q kemudian sudah bersiap di balik keyboardnya, disusul Pay dengan gitar Ibanez-nya beserta rokok yang diselipkan di jari kanannya. Tampaknya ini menjadi ‘Terlalu Manis’ yang paling sulit untuk dilupakan, gulanya kebanyakan. Belum selesai disitu, ‘Anyer 10 Maret’ yang dibawain, dan saya mulai kesulitan mencari tisu…

Selesai mengiris-iris hati penonton lalu menetesinya dengan irisan jeruk nipis, mereka ngajak ngebut dengan ‘Cekal’ sembari Bim-Bim curhat tentang pencekalan konser Slank beberapa waktu lalu. Intro dari synthesizer-nya Indra sangat khas sekali, benar-benar serasa kembali ke tahun 1993. Sudahkah? Belum! Permainan keyboard Indra yang sangat “honky tonk” muncul kembali pada lagu ‘Memang’. Setelah itu Indra malah kentut, eh lha kok jadi lagu ‘Bang-Bang Tut’.

"Pocong" menari di tengah penampilan Slank. (foto: twitter @AdibHidayat)

“Pocong” menari di tengah penampilan Slank.
(foto: twitter @AdibHidayat)

Ketika tampaknya kolaborasi ini akan semakin panas, justru Ian Antono tiba-tiba muncul ke panggung. Karena tidak ada dalam jadwal, akhirnya kami menyadari ini akhir dari pertunjukan, saatnya kolaborasi semua musisi. Saat Ian Antono mulai memainkan gitar, dari panggung sebelah muncul Achmad Albar. Kolaborasi 2 panggung! Go Ahead Stage diisi para vokalis, sementara A Stage para instrumentalis. Sayang, yang berdiri di depan A Stage tidak bisa mendengar jelas suara dari Go Ahead Stage. ‘Rumah Kita’ yang menjadi hymne para musisi pada malam itu, saya serasa kembali ke penutupan inisiasi FISIP UAJY 9 tahun lalu. Saat sepertinya lagu ini menjadi penutup, kami segera beranjak untuk pulang, yang ternyata dengan baik hati Slank mengantar dengan ‘Kamu Harus Pulang’, takut dimusuhin sama mama nanti kalau telat.

Sebagai konsumen yang belum “lahir” pada saat musisi-musisi di atas muncul, tentu seperti cita-cita yang tercapai, akhirnya dapat melihat mereka manggung bersama (kembali). Memang Slank minus Bongky yang menolak jika reuni dilakukan bukan pada konser tunggal, serta Dewa 19 yang minus Erwin Prast + Wawan + Rere atau Aksan Sjuman (ada Ronald, harusnya dia ikutan juga). Namun performa Ari Lasso yang masih prima meski sudah cukup berumur, permainan Andra Junaidi yang masih sama persis seperti di kaset, ketukan keyboard Indra Q yang tidak tergantikan, serta Pay dengan solo gitarnya yang juga masih sama seperti di kaset; menjadikan 1 faktor kemasan masa lalu ini sukses dijual. Belum lagi lighting yang menari-nari memanjakan (sekaligus kadang menyakiti) mata serta sound yang lumayan meski seharusnya masih bisa lebih baik lagi. Selain itu, faktor yang lain tentunya adalah kemasan event ini dari segi non-musiknya. Jaminan kenyamanan penonton cukup terpenuhi dengan service yang bisa dibilang memuaskan.

*Jadi, selamat menikmati milyaran rupiah yang berhasil anda keruk dari menjual masa lalu ini…*

Eh, maksudnya selamat untuk anda yang berhasil memuaskan hasrat menonton idola semasa kecil dulu…

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2013 in konser, memory, music, review

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: