RSS

LoEGuefriEND, 29 Years of Slank – Sepotong Nasi Tumpeng Untuk Slankers

25 Dec

23 Desember 2012, Stadion Kridosono, Yogyakarta

Sekali lagi, saya datang menonton sebuah konser untuk hal yang sentimentil. Karena sebenarnya agak malas dengan kondisi konser yang pasti penuh sesak dan kurang nyaman, mengingat Slankers yang datang pasti dari seluruh penjuru Indonesia.

Slank adalah pondasi saya (meski bukan batu pertama) dalam hal yang berhubungan dengan musik. Belajar gitar pertama dengan lagu ‘Balikin’; nge-band pertama kali bawain lagu-lagu Slank (as a vocalist, yes, don’t ask how and why :p); Slank adalah band yang albumnya saya koleksi pertama kali; lewat Minoritas Slankers Jogja (Slank Fans Club) kali pertama saya belajar berorganisasi; belajar motret panggung pertama kali Slank…dari hal-hal itu lalu berkembang menyentuh jenis musik lainnya…and the rest is history

Memorabilia Slank

Memorabilia Slank

20 Years of Slank – Metamorfosa Sebuah Generasi di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, 9 tahun lalu adalah alasan utamanya. Nostalgila! Singkat kata, waktu itu bersama rombongan berangkat ke Potlot untuk datang ke ultah Slank, ngerasain tidur di Potlot, numpang (maaf) boker & mandi di WC legendaris pojokan sebelah studio Slank, dan puncaknya naik MetroMini yang udah dibooking buat ke Lebak Bulus.

*…tapi hal di atas adalah bagian kisah yang berbeda…*

H-1 konser, Slankers dari luar kota sudah mulai berkemah di sekitar Kridosono, ada juga yang datang langsung naik truk, bis dan skuter. Seingat saya ketika 9 tahun lalu, Potlot diprioritaskan buat nginep para Slankers dari luar kota, selain dari luar Jakarta mereka gak boleh masuk. Kurang tahu untuk di Jogja ini bagaimana.

Tiket

Tiket

23 Desember 2012, Pukul 20.00 terlihat beberapa calon penonton berkumpul seperti menunggu jebolan. Entah bagaimana nasib mereka, karena sepengetahuan saya pintu tidak jebol dan jumlah penonton tidak tambah membludak secara drastis. Jika dibandingkan konser ultah di Lebak Bulus, saat itu jauh lebih gila, penonton tumpah ruah (karena faktor pintu jebol juga) hingga tiap sudut stadion, bahkan sampai atap tribun. Sebelum saya masuk sudah ada penampilan dari kelompok campursarinya Ki Ageng Ganjur (CMIIW).

20.30 WIB, Slank muncul dan mengajak ke ‘Pulau Biru’ yang indah bagai surga, manusia bijaksana hidup penuh dengan kesenangan, nggak pernah salah paham. Seperti sudah menjadi penyakit, pada awal konser sound system pasti kacau, mixing setiap instrumen tidak nyaman di kuping. Pada segmen awal ini Slank membawakan lagunya hampir tanpa jeda, termasuk ketika menyusupkan lagu ‘Garuda Pancasila’. Lagu-lagu pada segmen ini memang diset untuk membakar semangat Slankers yang sudah lama menunggu. Klimaksnya terasa saat ‘Mars Slankers’, getaran tanah terasa sampai hati dan membuat bulu kuduk merinding karena hampir semua penonton loncat-loncat.

Ki Enthus (CMIIW) kemudian muncul memainkan wayang dari karakter personil Slank. Kisahnya adalah berperang melawan “kejahatan”. ‘Generasi Biroe’ muncul mengawali segmen selanjutnya. Kolaborasi antara Slank dengan band “Campursari”-nya Ki Ageng Ganjur terjadi pada beberapa lagu. Namun sayang sound system tetap seperti 3 lagu pertama yang saya kira sudah cukup menjadi tumbal. Sound tetap pecah, terutama dari bandnya Ki Ageng Ganjur. Sementara secara keseluruhan sound system memang jauh dari nyaman untuk kuping, mixing instrumen tidak merata; bass drum tidak nendang, yang harusnya bisa membuat dada ini bergetar; vokal Kaka sering timbul tenggelam, dan seterusnya. Kemudian entah karena saya terlalu lama tinggal di gua atau bagaimana, lightingnya sedikit mengganggu di mata, terlalu mencolok mata, entah saya bingung memilih apa kata yang tepat untuk itu. Selanjutnya mata juga dibuat tidak nyaman ketika bendera-bendera dengan ukuran raksasa mulai dibentangkan, sehingga akhirnya 15ribu rupiah separuhnya habis untuk menonton parade bendera dari berbagai kota di Indonesia itu. Bahkan Bim-bim maupun Kaka tidak mampu untuk membuat Slankers menurunkan benderanya. Tapi, ya itu lah “uniknya” Slankers… *menghela napas*

Pada segmen ini terlihat ada penonton yang tidur di rumput, sepertinya ia Slankers dari luar kota yang udah kecapekan duluan. Namun di lain sisi ada 2 hal menarik pada segmen ini; pertama ketika ‘Bim-bim Jangan Menangis’ yang dimedley ‘Nggak Mau Percaya’ oleh Bim-bim dengan gitar akustik. Lagu kedua ini seingat saya jarang sekali dibawakan. Kedua; saat Ki Ageng Ganjur mengajak penonton untuk Sholawatan dengan iringan lagu yang indah sekali, tiba-tiba serasa ada bunga tumbuh di dalam hati ini. Bunga itu kemudian semakin mekar ketika Ridho mengambil gitar dan mulai memainkan lagu yang biasa ia mainkan sembari Kaka bermain harmonika…’Terlalu Manis’…di malam yang dingin dan gelap sepi, benakku melayang pada kisah kita..yang entah ke mana akan berlabuh, seperti lampion-lampion yang saat itu berterbangan dengan indahnya di angkasa.

*…makanya jangan terlalu manis, ntar susah dilupain…*

Semangat kembali dipompa lewat ‘Bang-Bang Tut’ dan ‘Punk Java’. Namun saya justru khawatir karena ada beberapa oknum yang belum dewasa untuk bersikap ketika menikmati konser. Entah berapa kali saya harus menghindar dari duel bebas yang tiba-tiba terjadi selama beberapa detik di depan saya, namun untung “hanya” keributan sekecil ini yang terjadi dan tidak seperti yang ditakutkan banyak pihak sebelumnya jika Slank konser. Jadi sudah ada tiga poin yang menjadikan konser ini tidak cukup nyaman bagi saya. Ki Enthus kembali melanjutkan kisah wayang Slank dalam menuntaskan “kejahatan” yang dilanjutkan dengan potong tumpeng yang sudah selayaknya menjadi bagian penting dalam konser ultah ini.

Tidak ada encore atau gimmick yang khas dari sebuah konser. Tema konser juga tidak ada yang baru, bahkan bisa dibilang justru kembali ke masa formasi 13, karena selalu berhubungan dengan Generasi Biroe yang tinggal di Pulau Biru. Maka pilihan lagu pun dengan mudahnya menyesuaikan tema tersebut, terlebih lagu-lagu Slank yang multi tafsir sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi apapun. Kolaborasi lagu dengan band Ki Ageng Ganjur selintas hanya pada aransemen ulang pada bagian tertentu -namun ada satu lagu yang menarik, aransemennya khas seperti lagu Dream Theater dan band semacamnya begitu lah-; selain itu Ki Ageng sesekali juga “berkotbah”. Bahkan Ki Ageng dan Ki Enthus terkadang seperti menjadi MC dalam konser tersebut. Secara konsep kolaborasi ini sebenarnya menarik, namun kemudian pikiran liar saya berjalan-jalan dan terlintas apakah ada maksud lain dari kolaborasi ini.

Sudah beberapa waktu ini Slank dilarang tampil di beberapa kota, termasuk Jogja. Tetapi setelah 2 konser sebelumnya (di Alun-alun Selatan dan di Trirenggo) berjalan lancarnya, sepertinya menjadi hal pertama yang menjadi pertimbangan turunnya perijinan. Hal kedua, dengan menggandeng Ki Ageng selain memberikan konsep baru dalam sebuah konser, juga menjadi sarana tawar-menawar yang kuat dengan pihak-pihak penguasa pemberi surat ijin.

Ah, tapi Slank tetaplah sebuah legenda tersendiri…setiap lagu yang dibawakan masih membuat bulu kuduk ini berdiri. Memang ada sedikit kekurangpuasan dengan setlist yang dibawakan, saya merindukan lagu-lagu balada klasik mereka. Konsep konser ini mungkin cocok sebagai rangakaian tur atau konser sekedar konser tunggal biasa. Tetapi ‘Hey Bung’, ini adalah ultah! Jadinya terasa kurang greng bagi saya (entah, mungkin mereka menyimpan konsep yang lebih besar untuk 30 tahun besok). Terpaksa saya harus membandingkan dengan konser ultah mereka 9 tahun yang lalu, konser Bersatu Dalam Damai atau konser Road To Peace yang lebih baik dan masih lebih mengena konsepnya.

Akhirnya saya pun pulang ketika Slank menyuruh ‘Kamu Harus Pulang’ diiringi dengan kembang api yang begitu indah dan sangat lama…terlalu lama bahkan…untuk dilupakan… PISS!

*nb : karena satu dan lain hal, saya tidak memotret, untuk foto silahkan melihat karya dari kawan saya Suryo Wibowo pada link ini ->

http://www.tempo.co/read/beritafoto/4614/Slank-Gelar-Konser-Ultah-ke-29/1

Setlist :

  1. Pulau Biru
  2. Virus
  3. Mars Slankers
  4. Lo Harus Grak
  5. Jurus Tandur ~medley~ Garuda Pancasila
  6. I Miss You But I Hate You
  7. Kuil Cinta
  8. Balikin
  9. Seperti Para Koruptor
  10. Punya Cinta
  11. Generasi Biroe
  12. Orkes Sakit Hati
  13. Gara-Gara Kamu
  14. Tonk Kosong
  15. Bimbim Jangan Menangis ~medley~ Nggak Mau Percaya
  16. Sholawatan ~medley~ Terlalu Manis
  17. Ku Tak Bisa
  18. #1
  19. Pandangan Pertama
  20. Kupu Biru
  21. Bang-Bang Tut
  22. Punk Java
  23. Kamu Harus Pulang
 
3 Comments

Posted by on December 25, 2012 in konser, memory, music, review

 

Tags: , , , , , , , , , ,

3 responses to “LoEGuefriEND, 29 Years of Slank – Sepotong Nasi Tumpeng Untuk Slankers

  1. anak wayang

    December 25, 2012 at 12:18 am

    Walau telat datang, Kridosono kemarin, adalah konser Slank terbesar yang pernah saya datangi, setelah Ancol 2009..😀 Jabat erat! piss.

     
  2. anak wayang

    December 25, 2012 at 12:37 am

    Ralat: Walau telat datang, Kridosono kemarin, adalah konser Slank terbesar yang pernah saya datangi, setelah Ancol, yang ternyata setelah diingat2 lagi tahun 2006 pas “Slank Fest 23rd Indie” .. Jabat erat! piss.

     
    • Surya

      December 25, 2012 at 1:09 am

      selamat sudah merasakan megahnya konser Slank🙂
      sayang sekali, untuk Slank konser ultah kemarin bukan menjadi yang terbaik buat saya…
      salam kenal bro…PLUR…

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: