RSS

Dream Theater – Systematic Orgasm (A Journey for Searching The Light)

27 Apr

21 April 2012, Mata Elang International Stadium, Ancol, Jakarta

Intro

Ketika ada info Dream Theater (DT) akan manggung di Jakarta, 2 hal yang jadi kegelisahan waktu itu : bagaimana kalau batal lagi seperti tahun 2006? Dan kemungkinan harga tiket yang mencekik. Hal pertama terbantahkan, namun setelah info harga tiket muncul saya & beberapa teman langsung pesimis dan mengurungkan niat. But, thanks to Novita, yang nolongin para anak terlantar yang jauh dari ibukota ini🙂. Akhirnya malah dapet barengan 16 orang (yang di hari H saya lumayan bingung membagi tiketnya), sayang mbak Ndit yang udah nunggu-nunggu DT malah sakit dan opname. Kontroversi harga tiket muncul di beberapa forum, kalau saya melihatnya dari 2 sisi; pertama jika memang ngefans berat dengan sebuah band/musisi maka usahakanlah menabung, ngutang, nyolong asal gak ketauan atau entah gimana pokoknya biar bisa dapet tuh tiket! meski mungkin hanya bisa terbeli yang paling murah dan view’nya kurang enak. Kedua, jika benar adanya promotor “menyerobot” DT dari promotor lain dengan nge-bid lebih tinggi, semoga ini tidak menjadi kebiasaan buruk, karena harga tiket akan menjadi di atas rata-rata, hal kayak gini bisa munculin persaingan tidak sehat dan ujung-ujungnya fans yang bakal jadi korban. Jika sevice promotor dengan harga tiket sebanding maka tidak masalah, namun sejak melihat tiketnya saya udah merasa aneh. Tiket di atas 350ribu tapi dari kertas biasa dan tidak ada barcode, “kalah” dengan tiket konser Jamrud (7 April 2012) yang semacam terbuat dari kertas dof dan cuma 10ribu.

perhatikan nomor serinya!

perhatikan nomor serinya!

Saya dan rombongan memutuskan mengantri setelah sempat bertemu dengan beberapa teman-teman i-Rock (terakhir ketemu 3 tahun lalu sama 2011 pas Iron Maiden-Bali kayaknya) Purnomo, Nero, Yoega, April, Sinta, Diaz, Adjie, dll, serta salah satu bapak prog Indonesia – Om Gatot yang akhirnya bisa ketemu setelah kenal lama di dunia maya. Sempat lihat keberadaan Michel, mas Yani Dreamer dkk tapi gak sempet ndatengin. Keanehan semakin tampak dari antrian masuk ke pintu pertama (MEIS berada di lantai 3 Mall Ancol Beach City) yang cuma 1 dan berada di atas, meski di bawah gate ada 2 namun penonton saling himpit hingga berkeringat dan susah bernapas. Akan lebih baik jika dibuat barisan dengan tali atau apalah untuk mengatur antrian yang memanjang. Tampak ada orang yang turun lagi setelah masuk, sepertinya dia kena razia kamera atau semacamnya hingga harus dititipkan. Namun sejak gate dibuka kira-kira jam 19.30 (harusnya jam 19.00), antrian tidak bergerak, hingga sepertinya panitia menyerah karena sudah mendekati waktu konser, pintu di atas dibuka lebih lebar dan pemeriksaan hanya pada tiket (disobek) sementara tas tidak tersentuh sama sekali. Sudah cukup? Belum! Sampai di dalam tidak ada ketegasan/kepastian panitia untuk mengarahkan penonton masuk ke kelasnya masing-masing, hanya : “festival lewat sini, silver lewat sana”, tanpa melihat tiket dan seperti mengarahkan anak-anak karya wisata ke kebun binatang mengarahkan ke kandang hewan apa yang ada. Sudah tertebak akhirnya banyak yang pindah kelas, terutama di bagian tribune & silver right/left/center yang tidak jelas batasannya. Dalam layout venue harusnya silver right di bawah tribune right, tapi nyatanya cuma bersebelahan, silver right lebih mengarah ke panggung.

antrian di luar, gate di bawah tendasumber: www.facebook.com/michel.kartaadiredja

antrian di luar, gate di bawah tenda
sumber: http://www.facebook.com/michel.kartaadiredja

Overture

Setelah venue terisi hampir 80%, Andy McKee keluar dan lumayan disambut penonton meski tampaknya ia sadar betul ia tidak diinginkan terlalu lama di atas panggung. Lagu-lagu band rock dimainkan untuk menemani kru DT menyiapkan alat. Beberapa live concert tur album sebelum2nya, DT selalu menawarkan sebuah konsep / cerita dalam penampilannya. Hal yang lumrah untuk sebuah band progresif, satu lagu berkaitan dengan lagu lainnya, atau satu lagu tetapi terdiri dari beberapa bagian. Tur album A Dramatic Turn of Events (dengan tur yang berjudul A Dramatic Tour Of Events) ini saya melihat dari sisi konser dibagi menjadi 5 bagian, turn the lights on – unplugged your soul – instrumentally talking – tearing apart your heart – encore. Total 15 lagu yang dibawakan John Petrucci (gitar), John Myung (bass), James LaBrie (vokal), Jordan Rudess (keyboard-MorphWiz) dan Mike Mangini (drum) tidak secara langsung berkaitan, namun cerita yang terkandung dalam masing-masing lagu mampu mengaduk-aduk emosi penonton selama hampir 2 jam 15 menit.

Part I : Turn The Lights On

A Dramatic Turn of Events menurut saya memang kurang memenuhi syarat concept album, sehingga 6 lagu barunya “harus” disisipkan di antara lagu-lagu dari album terdahulu mereka. Dibuka intro lagu Hans Zimmer yang jadi OST Inception; ‘Dream Is Collapsing’, sembari layar di panggung yang berwujud animasi 3D berbentuk kubus menampilkan sebuah cerita personil DT berwujud kartun berperang dengan naga lalu terbang ke stage. Nuansa Indian tercipta, ‘Bridges In The Sky’ merapal mantra “sun come shine my way, make healing waters bury all my pain”; sontak penonton “pecah”, yang diikuti dengan pecahnya sound. Part ini juga sekaligus ajang korban setting sound. ‘6.00’ semakin membangunkan tidur penonton “six o’clock the siren kicks him from a dream”. Sembari dihiasi vokal LaBrie yang timbul tenggelam, gitar Petrucci terlalu keras dan ada efek echo yang pecah suaranya, bass drum yang nggak nendang suaranya serta cabikan Myung yang memang tipis (cenderung tidak keras) itu semakin tidak terdengar karena mixing sound yang tidak maksimal. Selama konser masalah sound menjadi hal pengganggu yang paling utama selain mata pedih karena debu venue yang belum 100% jadi ditambah bau cat, bau semen, dll. Gara-gara akustik venue yang belum jadi ini pula tampaknya penyebab problem sound tidak maksimal.

langit2 tribune belum jadi, cor2an beton & kabel masih terlihat

langit2 tribune belum jadi, cor2an beton & kabel masih terlihat

Namun ketika LaBrie mengajak nyanyi bareng di ‘Surrounded’, tampaknya saya mulai melupakan sound yang lumayan bikin sakit telinga, pedih di mata, dan kedongkolan karena antrian yang tidak manusiawi di pintu masuk… “the shadow I’ve been hiding in has fled from me today”. Part ini seolah ingin menunjukkan bahwa Dream Theater masih hidup, tetap move on dan survive meski “ditinggal” Portnoy, uniknya lirik dari lagu di part ini beberapa menunjukkan hal itu (silahkan cek sendiri lirik-liriknya, lihat tracklist di akhir tulisan). Selain itu juga layaknya pembuka, part ini untuk menyalakan antusiasme penonton.

Mangini tampaknya terlalu terbiasa menjadi session player, sehingga dengan mudahnya dia menyatu dengan DT, namun masih belum terasa benar feel dirinya sendiri (efek 10 album kita terbiasa dengan Portnoy juga). Namun ketika solo drum, hal itu berubah, inilah Mike Mangini yang sesungguhnya! One of the fastest drummer in the world. Tribune lantai 2 semakin keras getarannya ketika double bass drum ia hantam secara cepat dan keras sembari kedua tangannya dengan cepat bertukar posisi memukul tom-tom yang berjejer rapi di toko kelontong yang ia pasang. Meski dengar kabar drummer ini not fans-friendly, orangnya sombong & menghindari fans, takut ditimpuk fansnya Portnoy mungkin :p. Memalukan sebenarnya karena personil lain sangat ramah, jadinya aneh kalau dilihat cuma dia yang nggak ndatengin fans, tapi namanya aja superstar, saya mungkin juga bakal gitu kalau jadi dia😀. Kekaguman berlanjut ketika DT flashback ke album pertama dengan ‘A Fortune In Lies’, LaBrie tampak agak fals, mungkin dia akan berkilah : “jaman itu kan bukan gue bro vokalisnya”.

toko kelontongnya Mike Manginisumber: katrin bretscher http://www.lurvely.com/photographer/37990501_N06/

toko kelontongnya Mike Mangini
sumber: katrin bretscher http://www.lurvely.com/photographer/37990501_N06/

Part II : Unplugged Your Soul

‘Outcry’ yang rumit dan panjang itu selesai dibawakan, artinya akan masuk sesi akustik. Meski cuma 2 lagu ‘The Silent Man’ dan ‘Beneath The Surface’, tapi jadi salah satu bagian favorit saya dari konser ini. LaBrie sekaligus mengajak & minta kesempatan untuk mengumpulkan nafas sembari curhat “I’ve never seen trafic like that, I’m considering walking into the gate”, tampaknya ia dongkol setelah 8 jam capek Korsel-Jkt, 2,5 jam tertahan di imigrasi dan 2 jam kena macet sehari sebelumnya😀. “Is silence like a fever?”, no, it’s another way to express yourself. Dengan format akustik koor penonton justru semakin terdengar jelas, terutama di lagu ‘Beneath The Surface’. Saat reff “until one day I stopped caring, and began to forget why I longed to be so close” koor penonton serasa jadi cewek semua, indah sekali, pasti cewek2nya cantik karena hapal lagu ini. Udah liriknya syahdu, musiknya nyaman sekali di kuping sama hati, plus koor penonton bikin suasana serasa sedang merebahkan diri di padang savana…lepas…bebas.

Part III : Instrumentally Talking

Bukan nonton Dream Theater (atau band progresif pada umumnya) jika tidak ada momen menjadi bengong selama beberapa saat. Rudess kembali mengutak-atik MorphWiz, aplikasi yang ada di iPad’nya, waktunya ‘On The Backs of Angels’.

Rudess & MorphWiz

Rudess & MorphWiz

Selama part ini semua lagu di-medley (ke ‘War Inside My Head’ dan ‘The Test That Stumped Them All’) dan menjadi yang terumit selama konser, terutama bagian instrumen yang beradu suara seolah-olah sedang melukis dengan nada. Pamer skill secara solo sudah biasa, namun jika masing-masing melakukannya tapi dalam satu komposisi yang sama itulah yang membuat mata dan kuping saya melongo selama part ini. Ditambah megahnya tata cahaya yang memancar seakan ia ingin ikut bernyanyi sesuai dengan komposisi lagu.

Part IV : Tearing Apart Your Heart

Lampu padam, tampak hanya tinggal Rudess dengan spinning keyboardnya & Petrucci dengan gitar plus footrests’nya di panggung, yang kemudian masing-masing disorot oleh lampu-lampu yang menunjukkan point of interest pada saat itu : DUEL!. Namun bukannya adu tangkas siapa paling cepat atau paling rumit, tapi justru keduanya menyatu menyusun nada-nada syahdu yang sepertinya sengaja dibuat untuk menyayat-nyayat kalbu dan merobek hati ini menjadi 2 tanpa membuat sendu. INDAH SEKALI. Hanya capslock ini yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan situasi saat itu. Nada-nada yang dimainkan dapat ditemui pada lagu-lagu di album Scenes From a Memory. Bukannya berhenti, Rudess malah mulai memainkan intro lagu sejuta umat malam itu, dan LaBrie bercerita lagu itu adalah tentang masa lalu memberikan harapan dan keyakinan (basa Jerman’e: sing wis yowis)…yap, ‘The Spirit Carries On’…penonton hapal benar kapan mulai bernyanyi meski tidak ada nada pembukanya. LaBrie jadi tampak seperti mengurangi powernya, seolah-olah membiarkan koor penonton menjadi aktor utama di lagu ini…

safe in the light that surrounds me, free of the fear and the pain, my questioning mind, has helped me to find, the meaning in my life again.”

Encore : Reach For The Light

’Breaking All Illusions’ sepertinya memang cocok untuk menipu penonton, serasa mencapai klimaks dengan beat yang naik dan nada harmonik. Tampak beberapa penonton mulai beranjak keluar, entah memang “tertipu” atau mending pulang duluan karena takut kena macet. “Thank you…and goodnight”…gimmick lawas untuk ngetes penonton meski mereka tahu itu (terutama yang sudah baca setlist di Korsel sehari sebelumnya). “We want more, we want more, curanmor, kevin moore, mandy moore, roger moore…”, hingga akhirnya sukses menarik intro dari kunci Em itu keluar… ‘Pull Me Under’! Lantai kembali bergetar, lighting semakin menggila, dan orang di seberang saya kembali headbang dengan kondisi duduk sembari tangan kanannya megang handphone untuk bikin bootleg versi dia. “Pull me under I’m not afraid, living my life too much in the sun, only until your will is done”, dan DT telah memenuhi permintaan penonton, “goodnight…see you next time around!”.

Jadi sadarkah anda bahkan sejak awal pengumuman konser DT emosi kita sudah diobok-obok dengan teratur? Mulai dari kepastian info, harga tiket, bahkan hingga diperlakukan seperti ikan sarden masuk ke pengalengan di pintu masuk, atau sound yang kadang bikin dahi berkerut. Namun tampaknya dengan melihat & mendengar komposisi DT live semua chaos itu berubah menjadi orgasme yang klimaks. Dan sadarkah anda bahwa sebagian besar lirik dari lagu di konser kemarin mengandung kata “sun”, “light” dan semacamnya yang berhubungan dengan cahaya? Silahkan cek sendiri🙂 …

“he stands before the window, his shadow slowly fading from the wall, and from an ivory tower hears her call…let the light surround you”

thank you and good nightsumber: twitter @Jcrudess

thank you and good night
sumber: twitter @Jcrudess

Setlist :

Part I :

00. Dream is Collapsing (Hans Zimmer song)

01. Bridges in the Sky

02. 6:00

03. Build Me Up, Break Me Down

04. Surrounded

05. The Root of All Evil

__Drum Solo__

06. A Fortune in Lies

07. Outcry

Part II :

08. The Silent Man (Acoustic)

09. Beneath the Surface (Acoustic)

Part III :

10. On the Backs of Angels

11. War Inside My Head

12. The Test that Stumped Them All

Part IV :

__Petrucci and Rudess solo__

13. The Spirit Carries On

14. Breaking All Illusions

Encore :

15. Pull Me Under

16. We Want More

17. Kevin Moore

18. Curanmor

19. Mandy Moore

20. Roger Moore

 
Leave a comment

Posted by on April 27, 2012 in konser, memory, music, review

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: