RSS

Konser Reuni, Ajang Menjual Nostalgila (Kebangkitan Jamrud Di Tengah Kebangkitan Yesus)

09 Apr
7 April 2012, Stadion Kridosono, Yogyakarta
 

Membentuk band tak ayal seperti kehidupan, lahir-berkembang(dewasa)-bubar(mati)-dan kadang hidup lagi-meski akhirnya bakal mati jua. Kesuksesan juga sama halnya, naik-turun. Indikator kesuksesan disini adalah album diterima(laku)-fans banyak-masuk tangga lagu. Album demi album tidak selamanya berakhir bahagia, album meredup nama juga lama-lama menghilang. Ujung-ujungnya bisa bubar, vakum atau lanjut dengan resiko ditanggung penumpang. Bukan hal yang baru sebuah band bubar lalu beberapa tahun kemudian mengadakan konser reuni (dan atau album) dengan formasi klasik (ketika sedang jaya) dan akhirnya menuai kesuksesan yang melimpah.

Bagaimana tidak, dari sisi publikasi pasti dapat perhatian besar, apalagi kalau memang legend & ditunggu banyak orang. Hasilnya? Tiket bisa ludes hanya dalam hitungan menit. Tampaknya bisnis yang menjanjikan ya? Jelas!

Ini bukan sebuah penghakiman bahwa reuni sebuah band hanya karena “kehabisan duit”, toh rasa rindu untuk mengulang kebahagiaan dalam bermusik pasti ada. Mendapat sambutan meriah dari fans saya kira adalah hal yang tidak ternilai bagi sebuah band (terutama yang memiliki fanbase besar). Nek jarene @pamityang2an, balen (balikan) is not a crime (ho’oh po? Jarene sopo?).

The Police, Morrissey, GIGI dll contohnya. Tahun ini ada yang menyusul, Jamrud! Sempat ditinggal Krisyanto dan diganti Donal (bukan bebek), nama Jamrud seolah-olah tenggelam (bagi saya sih gitu, bagi anda gimana?). 11 Oktober 2011 lalu mas Kris balikan dan tahun ini rilis album baru, kebetulan Jogja jadi kota pertama untuk tur (dan reuni). Menonton konser ini menjadi romantisme tersendiri bagi saya, karena konser pertama kali yang saya datangi adalah Jamrud, kira-kira pas saya kelas 5 SD kalau tidak salah, di Kridosono juga. Waktu itu (alm) Fitrah & Sandy masih ada. Diajak sepupu, dikawal sama Paklik, tiket box sudah tidak tampak dikarenakan penonton di luar stadion sudah menyemut di depan pintu untuk menunggu “jebolan”. Akhirnya terpaksalah saya dan sepupu yang tingginya cuma 130an cm ini ikut desak-desakan.

Konser dibuka Kobe (bukan Bryant) band jebolan Festival Rock ke X, yang “terpaksa” jadi korban para soundman buat “nyetem” sound (ah, hal biasa bukan?). Mic dari backing vokal justru lebih keras daripada yang dipakai vokalisnya. Tapi salut sebagian penonton hapal lagu mereka. Kobe “tertolong” ketika Roy Jeconiah dengan memakai topeng putih-baju tengkorak-membawa lampu tembak mengajak penonton ke ‘Neraka Jahanam’ dengan diiringi Kobe. Kejutan tidak berhenti di situ, John Paul Ivan dengan dandanan serba putih ala Justin Hawkins (The Darkness, yang kebetulan juga habis reuni) ikut nongol keluar. Tampaknya ada benang merah ya, beberapa waktu lalu Boomerang Perjuangan (Henry & Farid) muncul di acara musik televisi, bujukan-bujukan dan wacana untuk reuni terlontar di acara itu (yang kebetulan Roy & Ivan juga ngucapin lewat kicauan socmed sebelah). Begitupun Roy & Ivan, mereka semalam diharapkan bisa reuni oleh personil2 Jamrud. Strategi promosi dini?😉 teman-teman advertising mungkin lebih paham hal ini.

Tetiba sesosok Gatotkaca keluar memegang stick drum, oh sejak tidak bisa terbang tampaknya ia alih profesi jadi drummer😀. Danny adalah drummer baru Jamrud, mainnya? Cukup oke menurut saya, keras! Meski sesekali sering miss (bukan Universe). Terakhir dada saya bergetar adalah ketika Iron Maiden dan Helloween beberapa tahun lalu, tadi malam hal itu terulang. Gimana nggak, lha 60.000 watt (kata seorang kru,CMIIW) yang kesemua alat adalah milik Log Zhelebour sendiri. Sound menggelegar tampaknya bukan jaminan mixing sound yang baik, vokal Krisyanto tampak tenggelam, sound gitar Azis (bukan Gagap…ah bosen ya gini mulu leluconnya, dah ah) juga tidak jernih.

Tapi toh penonton yang memenuhi hampir 80% stadion tetap larut dalam balutan musik racikan mas-mas dari Cimahi ini, sing along-headbang-crowd surfing-jumping2 dan kepalan tangan ke atas selalu mewarnai pada hits macam Putri, Asal British, Berakit-rakit, Dokter Suster dll (maaf lagu-lagu barunya saya ndak tau *aduh ketok tuo’ne*). Krisyanto sempat ditanya Azis soal komitmennya balik ke Jamrud bakal sampai kapan, jawabnya : “sampe sekuat gue, dan kru.” Silahkan simpulkan sendiri😉. Vokalis Kobe sempat duet membawakan ‘Maaf’ yang konon jadi favorit teman-teman saya, kenapa? coba saja dengar lagunya. Roy & Ivan juga gak mau kalah, ‘Putri’ digeber dengan lebih gahar daripada versi Krisyanto lewat suara Roy yang menggelegar bagai Gundala Putra Petir.

Jamrud with Roy & Ivan

Jamrud with Roy & Ivan

Entah karena lama gak manggung bareng atau gimana, ada beberapa kali misscom ketika bawain lagu, telat masuk-tempo berubah dll. Namanya juga tur album baru, +/- ada 5 lagu baru, dan memangkas beberapa lagu seperti Nekad, Rasa Cinta Padamu, bahkan Pelangi Di Hatimu, eh Matamu tidak dibawakan. Beberapa band punya lagu khusus encore, yang artinya konser bubar setelah lagu itu, dan ‘Terima Kasih’ adalah khas dari Jamrud, tak terasa hampir 2 jam lebih konser berlangsung. Ah iya, satu lagi kritik buat Jamrud, mumpung statusnya additional, mending cari rhythm gitar yang lebih oke baik dari segi penampilan atau permainan, maaf tapi sang additional ini tampak konyol dari dandanan, eh kok ditambah aksi panggungnya yang simpel seperti patung di panggung. Kalau memang ingin dipertahankan, tingkatkan kualitasnya. (sangar yo, ketoke aku koyo lagi ngomong langsung karo Jamrud)

Jamrud

Jamrud

Last but not least, di tengah banjir genre musik tertentu dan keseragamannya dalam media massa tertentu, bersyukur masih ada yang tergerak untuk menunjukkan bahwa keanekaragaman is not a crime. Musik apapun berhak mendapat kesempatan, biarkan selera yang menenetukan dan tidak bisa dipaksakan. Rock, Metal apapun itu yang konon terpinggirkan tampak selalu bisa bangkit kembali, seperti Yesus yang selalu bangkit meski jatuh membawa salib kita pada Paskah ini, semoga bukan cuma euforia sesaat. Meski memang suatu hal selalu ada waktunya sendiri-sendiri untuk mendapat perhatian.

Berhubungan dengan kebangkitan ini, ada satu hal yang kebetulan menjadi persoalan. Kalender 2012 tentu sudah dicetak sejak 2011, setiap hari raya pasti juga sudah ditentukan (sebagian besar), dan setahu saya ketika sedang ada perayaan hari raya besar agama dihimbau/dilarang (saya kurang tahu ini sebenarnya himbauan atau aturan yang ada di UU-Perda-dan semacamnya?) untuk mengadakan acara musik yang bersifat massive dan “loud”. Saya ingin mengkritisi ini dari sisi tebang pilih, ketegasan dan soal birokrasi. Satu, Log adalah promotor legend, seharusnya dia lebih aware soal hal ini. Dua, pihak berwenang adalah “pihak bersalah” karena memberikan ijin. Tiga, tampak bahwa birokrasi memang akar ruwet yang bisa diurai dengan sebuah “kompromi”. Himbauan (atau aturan?) tidak ada acara musik di saat hari raya (atau dekat tempat ibadah) akan bijak jika berlaku untuk semuanya, untuk menghormati keanekaragaman. Apa kabar band yang tidak mendapat ijin konser di Jogja konon karena rawan rusuh jika ternyata di hari raya (dan dekat tempat ibadah) saja sampai bisa ada konser? Memang beda topik, tapi dasar pemikirannya sama : ijin penyelenggaraan konser. Penyebutan pihak-pihak di atas sebenarnya kuncinya ada di pemberi ijin, mereka berhak menolak atau memindahkan venue konser! Tapi saya tidak ingin melantur terlalu banyak soal pembandingan-pembandingan ini, salah sedikit bisa terpelintir maksud saya sebenarnya.

Nasi sudah jadi arem-arem, mari berpikir dengan kepala dingin, meributkan hal ini cuma bikin hati dan pikiran panas, capek pula. Toh juga tidak mengubah yang sudah terjadi. Kritik seharusnya juga didengarkan oleh pihak-pihak yang terkait, agar hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari. Tentu memaafkan ada di semua ajaran agama (kan?), koreksi saya jika saya salah.

* please don’t judge this article with religious view, any offensive comment will be deleted.*

 
3 Comments

Posted by on April 9, 2012 in konser, music, review

 

Tags: , , , , , , ,

3 responses to “Konser Reuni, Ajang Menjual Nostalgila (Kebangkitan Jamrud Di Tengah Kebangkitan Yesus)

  1. Faisal Akbar

    April 17, 2014 at 3:00 pm

    ini konser memang luar biasa. Kebetulan konser pertama yang saya tonton juga Jamrud waktu saya kelas 3 SD. Bangga Jamrud bisa eksis lagi dan semoga kedepannya kita bisa nonton konser dahsyat khas Jamrud

     
    • Surya

      April 19, 2014 at 5:19 am

      yap, meski euforianya akhirnya cuma sesaat, setidaknya bisa mengobati kerinduan pada Jamrud…

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: